BOGOR – Pajajaranpost.com- Upaya pelestarian sejarah dan budaya lokal terus dilakukan masyarakat Jasinga melalui penyelenggaraan Sarasehan Budaya bertajuk “Ngariksa Budaya Sangkan Napak Dina Uga Jati Jayasingha” yang digelar pada Selasa, 9 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi budaya sekaligus forum edukasi untuk menggali kembali sejarah dan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur, khususnya yang berkaitan dengan Kabuyutan Cicanggong dan Kasepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga.
Sarasehan tersebut mengangkat sejarah Kabuyutan Cicanggong, sebuah kabuyutan yang selama berabad-abad dipercaya mengemban amanah menjaga berbagai benda pusaka serta naskah Sunda kuno peninggalan leluhur Kasepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga. Sejumlah naskah bersejarah tersebut ditulis di atas daun gebang dan kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai bagian dari khazanah budaya bangsa yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak mengenal lebih dekat sejarah Kabuyutan Cicanggong, memahami peran para ahli warisnya dari generasi ke generasi, serta menelusuri hubungan historis yang erat antara Kabuyutan Cicanggong dan Kasepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga. Keterkaitan tersebut tidak hanya tercermin dalam pemeliharaan pusaka leluhur, tetapi juga dalam berbagai tradisi, nilai adat, dan tata cara ritual yang diwariskan secara turun-temurun.

Perwakilan keluarga besar Kasepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga, AMF Atmawijaya (Ki Endoh), menjelaskan bahwa para leluhur Kabuyutan Cicanggong sejak dahulu menerima mandat untuk menjaga dan merawat benda-benda pusaka serta naskah Sunda kuno sebagai amanah yang harus dipelihara demi keberlangsungan nilai budaya, sejarah, dan identitas masyarakat Jasinga.
Salah satu pembahasan penting dalam sarasehan ini adalah tradisi penyandingan pusaka antara Kabuyutan Cicanggong dan Kasepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga. Berdasarkan riwayat yang diwariskan secara turun-temurun, penyandingan terakhir kedua pusaka tersebut berlangsung pada tahun 1939.
Tahun 2026 menjadi momentum yang sangat istimewa. Setelah kurang lebih 87 tahun, pusaka Kabuyutan Cicanggong dan pusaka leluhur Kasepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga kembali dipertemukan dalam rangkaian kegiatan Riungan Gede Jasinga yang diselenggarakan dalammemperingati Hari Jadi Kabupaten Bogor ke-544 di Pendopo Eks Kawedanaan Jasinga. Momentum bersejarah tersebut terlaksana berkat dukungan Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor bersama para ahli waris Kabuyutan Cicanggong dan keluarga besar Kasepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga.
Ketua Pelaksana kegiatan, Rahmat Hidayat, menyampaikan bahwa sarasehan budaya ini tidak hanya menjadi forum diskusi sejarah, tetapi juga sarana pendidikan budaya bagi generasi muda agar lebih mengenal akar sejarah dan identitas daerahnya.
“Melalui tema Ngariksa Budaya Sangkan Napak Dina Uga Jati Jayasingha, kita diajak untuk menelaah kembali warisan budaya leluhur agar mampu memahami jati diri Jasinga yang sesungguhnya. Budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dipahami, dirawat, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang,” ujarnya.
Kegiatan sarasehan dipandu oleh Ilham Nurwansah, M.Pd., seorang peneliti naskah Sunda kuno yang aktif melakukan kajian terhadap manuskrip dan warisan literasi budaya Sunda. Kehadirannya memberikan perspektif akademis sekaligus memperkaya pemahaman peserta mengenai nilai sejarah yang terkandung dalam naskah-naskah kuno dan pusaka budaya yang menjadi bagian penting dari identitas Jasinga.
Acara tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh adat, budayawan, akademisi, unsur pemerintahan serta pegiat pelestarian budaya dari berbagai daerah. Di antaranya NR. Rulany Indra Gartika Wirahaditenaya Rusady (Bunda Ully) yang dikenal sebagai Duta Perdamaian Dunia, serta Abah H. Rahmat dari Masyarakat Adat Pancer Pangawinan Kasepuhan Adat Guradog, Kabupaten Lebak, yang secara historis memiliki keterkaitan dengan Kasepuhan Adat Pancer Mandiri Jasinga.
Hadir pula Plh. Camat Jasinga Sugiyanto, S.Sos., M.A.P., Abah H.Asep Kombara Tokoh Masyarakat Bogor Barat, Jaro Jajang dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), H. Sukanta dari Kesatuan Adat Banten Kidul, Junaedi Ibnu Jarta dari Majelis Permusyawaratan Masyarakat Kasepuhan, Jaro Peloy selaku Anggota DPRD Kabupaten Bogor, serta H. Ali Taba selaku Ketua Lembaga Adat Keariaan Tangerang.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Bogor yang diwakili oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, S.Sos. Kehadiran beliau menjadi wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian, pengembangan, dan pemajuan kebudayaan daerah.
Dukungan tersebut diharapkan mampu memperkuat upaya penggalian, pelindungan, serta pengenalan kembali warisan sejarah dan nilai-nilai budaya lokal yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Jasinga.
Melalui penyelenggaraan Riungan Gede Jasinga dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Bogor ke-544, masyarakat berharap upaya penggalian sejarah, pelestarian budaya, dan penguatan identitas daerah dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi budaya, memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga warisan leluhur, serta meneguhkan jati diri Jasinga sebagai wilayah yang kaya akan nilai sejarah, tradisi, dan kearifan lokal.
Selain itu, masyarakat berharap Riungan Gede Jasinga beserta rangkaian kegiatan budayanya dapat terus dilaksanakan dan menjadi agenda tahunan yang berkesinambungan. Dengan demikian, nilai-nilai budaya, sejarah, dan tradisi leluhur dapat terus diwariskan, dilestarikan, serta dikenal lebih luas oleh generasi masa kini maupun generasi yang akan datang.
(Redaksi)





