Bogor,- pajajaranpost.com-Pagi Jumat, 27 Februari 2026 menjadi hari yang tak biasa bagi keluarga besar MTs Al-Muhlisin. Lapangan sekolah yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar dan olahraga, pagi itu berubah menjadi saksi hadirnya pesan kemanusiaan langsung dari tanah para nabi — Palestina.
Melalui program Safari Dakwah Kemanusiaan Al-Quds Volunteer Indonesia Bogor Raya, para siswa dan siswi mendapatkan kesempatan langka bertemu secara langsung dengan dai cilik Palestina, Hamzah, seorang anak yang menjadi saksi nyata kehidupan di tengah konflik Gaza.
Sejak awal kegiatan dimulai, wajah-wajah penasaran dan penuh semangat terlihat dari para siswa. Guru, staf sekolah, hingga kepala sekolah turut hadir menyambut kedatangan tamu istimewa tersebut. Cuaca yang cerah seakan ikut membersamai terselenggaranya kegiatan penuh makna ini.

Dengan didampingi penerjemah berpengalaman, Ustadz Azzam, setiap pesan yang disampaikan Hamzah mampu diterima dengan jelas oleh seluruh peserta. Meski dengan keterbatasan bahasa dan kalimat sederhana, suara Hamzah mampu menghadirkan suasana haru.
Seorang anak seusianya berbicara tentang kesabaran, kehilangan, dan harapan… sesuatu yang bagi sebagian siswa di Indonesia hanya mereka dengar dari berita.
Sesekali Ustadz Azzam mengajak seluruh siswa untuk bersama-sama menyuarakan dukungan bagi Palestina. Suara lantang para pelajar memenuhi lapangan sekolah, menjadi simbol bahwa jarak ribuan kilometer tidak menghalangi rasa persaudaraan umat.
Momentum semakin mengharukan ketika dilakukan penyerahan simbolis bantuan kemanusiaan dari Al-Quds Volunteer Indonesia melalui Hamzah. Pihak MTs Al-Muhlisin pun menyerahkan amanah cinta dan kepedulian untuk disampaikan kepada saudara-saudara mereka di Gaza.
Pesan kemanusiaan yang disampaikan ternyata tidak berhenti di lapangan sekolah. Beberapa guru dengan penuh kesungguhan mendatangi panitia dan menanyakan nomor rekening donasi Al-Quds Volunteer Indonesia, sebagai bentuk keinginan untuk tetap membantu Palestina meskipun tidak dilakukan saat itu juga.
Hal ini menjadi bukti bahwa kepedulian lahir dari hati yang tersentuh — bahwa dakwah kemanusiaan bukan hanya didengar, tetapi benar-benar menggerakkan.
Suasana semakin ramai saat sesi foto bersama dibuka. Para siswa, guru, dan staf berlomba mengabadikan momen berharga bersama Hamzah. Namun di tengah antusiasme tersebut, Hamzah tetap menjaga adab Islam dengan tidak berfoto terlalu dekat dengan siswi yang bukan mahram. Sikap sederhana itu justru menjadi pelajaran nyata tentang akhlak dan penjagaan diri dalam Islam.
Kegiatan pun berakhir dengan suasana khidmat. Langkah pamit Hamzah, Ustadz Azzam, serta pengurus Al-Quds Volunteer Indonesia Bogor Raya meninggalkan jejak haru di hati seluruh peserta.
Hari itu, MTs Al-Muhlisin tidak hanya menerima kunjungan seorang dai cilik.
Mereka menerima pesan tentang empati.
Tentang persaudaraan.
Tentang bagaimana kepedulian bisa lahir dari pertemuan singkat namun bermakna dalam.
Semoga suara kepedulian yang menggema di lapangan sekolah pagi itu, menjadi doa dan harapan yang sampai kepada saudara-saudara kita di Palestina.(Red)





