
pajajaranpost.com// Perang Khaibar adalah salah satu peristiwa agung dalam sejarah Islam. Khaibar, sebuah benteng yang sangat kuat di utara Madinah, dikenal sebagai pusat pertahanan musuh yang penuh kesombongan. Benteng itu berdiri kokoh, dikelilingi oleh dinding batu yang tebal, dan dijaga oleh para kesatria Yahudi yang gagah berani. Pintu-pintunya terbuat dari besi yang amat berat, sulit ditembus oleh pasukan mana pun.
Kaum Muslimin mengepung Khaibar berhari-hari. Mereka menghadapi kesulitan besar, sebab benteng itu hampir mustahil ditembus. Namun Rasulullah ﷺ tetap menanamkan keyakinan di hati para sahabat bahwa kemenangan akan datang dengan izin Allah.
Malam itu, Rasulullah ﷺ bersabda di hadapan para sahabat yang berkumpul di tenda perangnya:
“Sungguh, besok aku akan memberikan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya pun mencintainya. Melalui kedua tangannya, Allah akan membukakan kemenangan atas kaum ini.”
Esok harinya, Rasulullah ﷺ memanggil Ali bin Abi Thalib. Saat itu Ali tengah sakit mata, matanya merah dan nyeri hingga sulit dibuka. Namun Rasulullah ﷺ mengusapkan ludah penuh berkah ke matanya, dan seketika sembuhlah matanya seakan tak pernah sakit.
Panji kemenangan pun diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib. Wajahnya bercahaya, penuh semangat, dan hatinya diliputi keyakinan. Dengan mengibarkan bendera itu, ia maju menuju benteng Khaibar.
Di hadapan benteng, keluarlah Marhab, kesatria Yahudi terkenal, mengenakan baju besi lengkap. Ia berteriak lantang, menantang siapa pun yang berani menghadapinya.
Sayyidina Ali maju dengan tenang, membawa pedang Dzulfiqar yang legendaris. Pertempuran sengit pun terjadi, hingga dengan sekali tebasan dahsyat, kepala Marhab terhantam pedang Ali. Musuh roboh, dan kaum Muslimin bersorak takbir.
Namun pintu benteng Khaibar masih menjadi penghalang. Pintu itu luar biasa besar dan berat, terbuat dari besi tebal. Para ahli sejarah memperkirakan beratnya mencapai sekitar 300–400 kilogram, bahkan ada riwayat yang menyebutkan lebih dari itu.
Sayyidina Ali, dengan penuh tawakkal kepada Allah, maju mendekati pintu itu. Ia genggam gagangnya, lalu ia tarik dengan segenap kekuatan iman. Dengan izin Allah, pintu itu tercabut dari tempatnya. Di tangan Ali, pintu seberat ratusan kilogram itu berubah menjadi perisai raksasa. Beliau menangkis anak panah dan tombak musuh sambil melindungi kaum Muslimin yang menyerbu masuk.
Seusai pertempuran, para sahabat penasaran. Delapan orang lelaki perkasa mencoba mengangkat pintu itu bersama-sama, namun tak mampu menandingi kekuatan Ali. Riwayat lain bahkan menyebutkan hingga sepuluh atau empat puluh orang tetap tidak sanggup mengangkatnya sebagaimana Ali lakukan seorang diri.
Maka benarlah sabda Rasulullah ﷺ. Ali bin Abi Thalib adalah lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan cintanya dibalas oleh Allah dan Rasul-Nya. Kemenangan Khaibar menjadi bukti nyata betapa keberanian, iman, dan cinta sejati kepada Allah mampu melahirkan kekuatan yang melampaui batas manusia.
Sejarah pun mencatat Ali bin Abi Thalib sebagai Sang Pintu Khaibar, simbol keberanian, keimanan, dan pengorbanan sejati di jalan Allah.(Red)
#kisahkisahislam
Related Posts
Februari 27, 2026
Februari 27, 2026